Lihat Tweet @EllenaHannie: https://twitter.com/EllenaHannie/status/712194112875671552?s=09

Iklan

Dream…(part.6)

Dream….(part.6)

By. Aechan Kim

Rate: M

Genre: Romance

Cast: Li Xu a.k.a Kim Ryeowook, Hangeng n Oc

Disclaimer: I only own the story line..chara isn’t mine…

~~happy reading~~

“Kak….apa Kakak yakin tak salah pilih…?”

Han memutar bola matanya. Pertanyaan itu adalah kalimat ke dua puluh yang di ucapkan adiknya selama setengah jam terakhir.

“Apa yang salah Ae-ya…?”

“Kakak ingin menjamu seorang rekan bisnis di kantor pribadi…? Di lantai atas…? Ayolah Kak…apa kau sudah benar-benar tak punya dana atau apa…”

“….apa tak memalukan jika kau, pemilik G group, menjamu tamu hanya dalam ruang sempit di atas sana…? Oh…seleramu..benar-benar payhhmmpptttt….”

Lagi-lagi Han harus berterimakasih pada tangannya yang melakukan fungsinya dengan baik, membungkam ocehan adiknya yang jika tak di hentikan akan membuat Han mengalami kebotakan dini. Okay…ini berlebihan..!!

Aerin masih menggapi-gapai. Berusaha melepaskan bekapan tangan besar kakaknya.

“Aaaww…jangan menggigitku, Princess…!!”

Han mengibaskan telapak tangannya yang baru saja disapa gigi Ae.

“Rasakan…!!” Gadis itu mendelik kesal, sambil berusaha mengatur nafasnya.

Mau tak mau Han tersenyum lebar, yang hampir saja membuat Ae memukul kepalanya sendiri untuk menyakinkan penglihatannya. Kakaknya…? Si gunung es G group ini tertawa…oh..dunia sudah gila rupanya.

“Andai Kakak lebih sering tersenyum…” Gadis itu mengucapkan kalimatnya dengan nada melamun, membuat Han seketika terdiam. Tak lama karena menit selanjutnya pria itu kembali tersenyum lembut.

Nah..dunia semakin gila rupanya, karena Kakak Aerin bisa tersenyum seperti itu.

Pria tampan itu melingkarkan lengannya kebahu Ae, membawa gadis kecilnya itu melanjutkan langkah.

“Aku tak salah pilih, Princess…Dan akan aku tunjukkan seperti apa ruangan yang katakan sempit di atas sana itu…”

.
.
.
.
.
.
.
.
.

“Wwooooaaaaa……as expected Brother…!! Seleramu benar-benar yang terbaik….!!”

Aerin memekik senang. Mata bulatnya sibuk menjelajahi ruangan besar milik kakaknya itu.

Well…sepertinya ada beberapa hal yang perlu di ralat disini.

Yang pertama, ruangan kakaknya tidak sempit, dan yang kedua, seleranya tetap yang terbaik. Dengan desain interior klasik yang membuat ruangan setengah lingkaran berdinding kaca itu terlihat menawan, nyaman, hangat, dan elegant.

“Jadi..? Masih mau menyebut seleraku payah, Princess..?”

Aerin cepat-cepat menggeleng.

“Tidak….!! Ini keren Kak…sungguh…”, Aerin mengacungkan dua ibu jarinya.

“Aku setuju dengan pendapat Nona…”

Eh….

Aerin membeku. Tunggu….suara ini…sepertinya Ae pernah mendengar suara ini.

Tapi, apakah mungkin…?

Gadis itu masih sibuk memutar otak, mencoba meyakinkan diri jika saja pendengarannya salah.

Ah..salah benar, itu urusan nanti, yang penting  dia harus memuaskan dulu rasa penasarannya.

Satu..dua…tiga…. Dan mata bulat Ae sudah sama bulatnya dengan bulan purnama di luar sana.

Pemuda ini… Pemuda Eiffel waktu itu. Pria yang membuat dunianya blur dalam hitunga detik..dan pemuda itu disini…?

Tak jauh berbeda dengan Ae, Li Xu pun terpaku. Detak teratur di dadanya kini mulai keluar jalur.

Gadis ini…si cantik bermata bulat yang berdiri di bawah Eiffel. Gadis unik yang memicu rasa ingin tahunya karena permohonan manis yang diucapkannya kala itu.

Lalu..untuk apa gadis itu berada di sini..? Tak mungkin kan jika dia ini kekasih atau istri dari rekan bisnis yang mengundangnya makan malam kali ini…?

Oh..Tidak… Tuhan… Jangan…!!

Tapi…sepertinya perkiraan Li Xu benar, karena melihat mereka berdua rasanya tak mungkin jika mereka sepasang kekasih.

Suara deheman Han membuat kontak mata ala telenovela itu terputus. Dua orang itu segera melakukan apapun untuk menawar keheningan yang begitu kikuk.

Li Xu mengusap tengkuknya yang sama sekali tak gatal dan Ae terlihat sibuk memandang kemanapun asal tidak kedepan.

“Apa kalian sudah saling kenal..?”

“Ya / Tidak…”

Dua suara berbeda jawab itu membuat kening Han berkerut dan rutukan terdengar dari hati Li Xu dan Aerin.

“Eum..maksudku…”, lagi-lagi dua suara terdengar bersama dan kerutan di kening Han semakin dalam.

“Jadi…apa aku masih perlu memperkenalkan kalian..?”

“Tentu..tentu…tentu saja Kak….”

Baik..kegugupan Aerin sudah cukup memberi penjelasan bagi Han jika ada sesuatu yang mereka sembunyikan.

Baiklah…akan dia lihat lagi nanti akan seperti apa..

“Senang bertemu denganmu Li Xu-ya..sudah lama sekali aku tak melihatmu..”

Han melemparkan sapaan sehangat mungkin, mengulurkan tangan menjabat tangan Li Xu.

“Well…melihat apa yang kau dapatkan sekarang…tentunya aku tak heran jika kau bahkan tak sempat untuk sekedar mengajakku keluar minum, Hyung…”

Han tertawa, dia sudah lama mengenal Li Xu. Awalnya memang hanya perkenalan sebatas rekan bisnis. Tapi, lambat laun perkenalan mereka pun beranjak menjadi persahabatan.

“Oh….kau juga sama saja Li Xu-ya..aku dengar K hotel mulai membuka cabang di Eropa, itu benar bukan…?”

“Hyung….apa kau mengundangku makan malam hanya untuk membuatku malu..?”

Tawa bersahabat mengalun di bibir mereka. Hingga sebuah sentakan kecil di lengan jas Han membuat pria itu menoleh dan mendapatkan kerucut kesal dari adik kecilnya.

“Oh..aku lupa…ini adikku.. Aerin.. dan aku tak percaya jika kalian tak saling kenal sebelumnya….”

Aerin merona hebat dan Li Xu tertawa semakin lebar.

“Serius Hyung….kami belum saling kenal…-Li xu mengalihkan tatapannya pada gadis yang masih merona canti itu–… “jadi..kau Aerin… wo shi Li Xu…senang bertemu denganmu…”

“Senang bertemu denganmu juga, Oppa…benar aku memanggilmu begitu…? Tadi kau memanggil kakakku dengan sebutan Hyung…”

“Itu benar Nona..”

Oh…cukup sudah penjelasan yang diinginkan Han. Rona merah jambu di pipi adiknya itu, juga suaranya yang berubah malu-malu. Ayolah..walaupun dia tak pernah berkencan dengan perempuan manapun selama ini, bukan berarti dia tak tahu apa-apa tentang perempuan kan…?

Dan adiknya ini..mudah sekali untuk di baca…

Suara malu-malu..astaga….Han baru sadar jika mungkin cinta mampu merubah apa saja.

Dan demi apapun juga, Han yakin jika memang terjadi sesuatu di antara Aerin dan Li xu. Itu akan dia pastikan nanti dan dengan cara apapun juga..dia harus mendapatkan jawaban dari bibir adiknya.

“Maaf…jika aku mengganggu reuni keluarga atau apa..tapi..bisakah kalian membantuku…?”

Kali ini, bukan lagi deheman yang memecah suasana canggung antara Han, Li Xu dan Ae, tapi suara salah tingkah seorang gadis.

Seperti di komando, 3 pasang mata itu menoleh serentak ke arah pintu. Dan gadis itu semakin salah tingkah, bagaimana tidak, jika 3 orang sekaligus dengan pandangan berbeda.

Tak ingin terlibat jauh dalam suasana aneh, atau memang Ae ingin membantu atau opsi lain jika bisa saja gadis itu hanya ingin alasan agar tak terus menerus menatap mata Li Xu, Aerin bergegas kearah pintu. Membantu perempuan yang dia tahu sebagai gadis pelayan restoran itu. Membantu membawakan berbagai macam bungkusan yang memenuhi tangan si gadis.

Oh..tenanglah…tenang Ae…ini hanya makan malam..alihkan perhatianmu pada makanan ini saja..jangan pada Li Xu..

Gadis itu masih sibuk merutuk rutuk dalam hati, mencoba menenangkan jantungnya yang masih saja membuat telinganya tuli dengan detak tak sopan itu.

Tak sampai hitungan menit, semua makanan itu sudah tertata rapi di atas meja.

Huang Meihui baru akan meninggalkan ruangan itu ketika lengannya di tahan seseorang.

Gadis itu mengira jika pria aneh bernama Han Geng itu yang membuatnya tinggal, ternyata bukan. Padahal Mei sudah mempersiapkan berbagai macam alasan untuk menolaknya.

Meihui menatap bergantian antara lengannya dan wajah si gadis manis yang menahan langkahnya.

“Ya Nona.. apa ada yang kurang..?”

“Jiejie…keberatan jika ikut makan bersama kami…?”

“Eh…?”

Makan malam…?

Apa dia tak salah dengar…?

Meihui bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang lain, dan kini ada orang asing yang sama sekali tak dia kenal memintanya makan malam bersama…?

Bagaimana jika nanti dia mengacau..?

Memang benar, dia sudah beberapa kali bertemu dengan Han, tapi dengan dua yang lain, dia sama sekali tak kenal.

“Jiejie…bagaimana..? Kau bersedia..?”

Nada permohonan yang penuh harap itu mau tak mau membuat Meihui tergoda. Salahkan sifat bawaannya yang gampang merasa tak tega dengan orang lain.

Gadis itu hanya mengangguk pelan, sepenuhnya mengabaikan tatapan Han yang sungguh membuatnya tak nyaman. Hah…dia tak yakin akan mampu menelan makanannya jika terus ditatap seperti itu.

Tapi demi mendengar pekik senang dari nona muda ini, mungkin tak ada salahnya dia menebalkan telinga, mata dan wajahnya.
.
.
.
.
.
.

“Waaaaa….ini enak…!!”

Lagi-lagi pekik senang Ae yang mencairkan suasana. Gadis itu sibuk memenuhi piringnya dengan berbagai macam menu yang ada disana, mencoba nya satu persatu dan memekik senang ketika hampir semua makanan yang masuk ke mulutnya berasa nikmat di lidah.

“Jiejie…bagaimana Kakak bisa menemukan restoranmu…biasanya dia paling malas jika harus berkeliling…”

Aerin mengabaikan dengusan yang dikeluarkan kakaknya itu.

“Kakak mu beberapa kali datang makan siang, Nona..”

“Benarkah…?”, gadis itu memicingkan mata ke arah kakaknya yang pura-pura tak mendengarkan.

“Apa dia mengajakmu berkenalan…?”

Seperti ada yang menekan tombol pause, dua sumpit itu menggantung di udara, setelah Aerin selesai mengucapkan kalimatnya. Milik Han dan Meihui.

Bagaimana ini…?

Meihui memutuskan kontak mata yang terjadi dengan mengangguk pelan, menggumamkan “ya” lirih yang membuat mata Aerin kembali membola.

“Wow..!!” Decaknya pelan. Tentu saja ini hal menarik. Setahunya kakaknya itu akan kabur lebih dulu jika melihat perempuan.

Jangankan untuk mengajak berkenalan, Kakaknya itu bahkan lebih memilih membiarkan Ae yang menyelesaikan urusannya pada semua gadis yang mencoba mendekatinya. Dan kini, Han mengajak seorang gadis daro restoran itu berkenalan, ini berita besar.

“Mungkin lain kali kita bisa berkunjung ke restoran yang kau maksud itu Nona Ae…?”

Aerin terkesiap, tingkah nya kembali berubah malu-malu.

“Apa Oppa mengajakku pergi…?”

“Eum yaa…dan siapa tahu kita bisa membuat doa manis di bawah Eiffel itu menjadi nyata…”

Bbluusshh…

Rona pipi Aerin sudah sampai ketelinganya.

“Apa tidak apa-apa Hyung…?”

“Tentu Li Xu ya…”

Okay…kali ini kalimat kakaknya itu justru membuat Aerin takut. Biasanya saudara nya itu akan sangat mudah curiga pada siapapun yang mencoba mendekati Ae, dan kali ini pun dengan mudahnya kakak nya itu melepaskannya, ini aneh..

‘Tuhan…kenapa aku berdebar….’

Kalimat itu menggema dalam 4 hati. Anak manusia yang mencoba menerka apa itu cinta.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Huang Meihui sedang menikmati keindahan padang bunga putih itu. Duduk sembari memeluk dua lututnya, membiarkan angin senja menyelimuti tubuhnya.

Senyum indahnya terkembang. Dia sangat suka senja, menikmatinya serasa bercumbu dengan alam.

Sepasang lengan yang tiba-tiba mendekapnya itu membuatnya berdesir. Kehangatan suam yang terasa begitu nyaman.

“Feng Ge…”, desisnya lirih.

Tak ada jawaban, hanya dekap yang semakin erat.

“Feng Ge..bicaralah…katakan sesuatu…”

Meihui menyentuh jari-jari yang tertangkup di depan tubuhnya. Ini, Feng Teng nya kah..?

“Feng Ge…ku mohon…jawab…”

Kalimat Meihui terputus ketika dia memutar tubuhnya. Bukan Feng Teng yang memeluknya, bukan kekasihnya…

Mei melangkah mundur, menggeleng pelan, menatap nanar senyum tulus yang di berikan Han.

“Tidak…kau bukan Feng Teng…kau…”

Gadis itu terus mundur, berusaha menjauh dari pria yang justru mengikuti setiap langkahnya.

“Kau bukan Feng Teng…kau bukan kekasihku…”

Kalimat itu terus bergumam dalam dirinya.

“Aku ingin kekasihku…bukan kau….FENG GEEE….!!!”

Suara Mei menggema tanpa jawab, gadis itu tahu, Feng Teng nya tak akan pernah lagi bisa menjawab panggilannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Teriakan itu memenuhi seluruh sudut kamar Meihui. Gadis itu telah sepenuhnya terjaga, menutup wajahnya dengan dua tangannya, membiarkan butiran bening itu lolos dari sela jari-jarinya.

Mimpi itu lagi…mimpi yang sama lagi..

Hatinya dipenuhi rasa sesak. Sesak karena rasa bersalah yang menderanya.

Ini tidak benar, tak seharusnya dia memimpikan pria lain.

‘Ini salah…ini tak boleh terjadi… Feng Ge…apa ini salah.. ?’

Dan tangis Mei kembali mengalir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sekian kilo dari tempat Meihui menangis dalam sunyi, Han sedang gelisah dalam ruangannya. Sibuk memikirkan cara baru apa lagi yang mungkin bisa dia gunakan untuk menemui gadis itu.

Dia sungguh tak pernah mengira jika gadis itu akan seperti candu yang membuatnya ketagihan.

Apa ini rindu…? Apa ini cinta…? Lalu… apa rindunya berbalas…? Apa cintanya berjawab…?

Pria tampan itu menyesap sedikit minumannya, mengulumnya dimulut, menikmati sensasi manis yang perlahan berubah menjadi pahit.

Rasa ini seperti apa yang terjadi dalam dirinya.

Mata tipisnya terpejam, seiring cairan itu menuruni tubuhnya.

‘Huang Meihui…’

****tbc****

Note:

Haloo..haloo…*lambai-lambai..

Akhirnyaa…selah molor berminggu-minggu…part 6 nya bisa ke post…. *legaa..

Salahkan segala sesuatu yang terjadi di my real life yg membuat mood nya sempat hilang timbul kayak sandal tenggelam…*plaaakkk T.T

Anw… semoga part ini tak mengecewakan…

Semua yang telah mampir dan membaca… TERIMAKASIH BANYAK…*kecup atu atu

Dan for the real author.. Kim Aechan author-nim…xie xie sudah menuliskan ini buat aku… ^^

See u… (I hope) as soon as possible… ^^

**misshan**

Find Me…Like Me…

Find Me..Like Me…

By. Ellena Han

Rate: T

Genre : Romance

Cast: Li Xu a.k.a Kim Ryewook n OC

Disclaimer: Im only own the story line, chara isn’t mine

~~happy reading~~

Tok..took….tokk….

Mungkin hanya mimpi…. Aerin kembali meringkuk dalam selimutnya.

Tookkk..tokk..tokk…

Suar itu lagi… Ya ampun..

Siapapun yang membuat suara sialan itu untuk mengganggunya tak akan dimaafkan. Aerin bangundari balik selimut, mengucek mata bulatnya sejenak, mencoba mengembalikan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul.

Jam 5 pagi, what the….

Orang kurang kerjaan mana yang mengetuk pintu apartemennya pada pukul 5 pagi…?

Gadis itu kembali mengeluh perlahan, ketika ketukan yang kali ini mulai berubah menjadi pukulan berisik itu terdengar semakin keras. Sial….orang itu bisa membangunkan seluruh penghuni gedung, jika tidak berhenti mengetuk seperti itu.

Aerin turun dari ranjangnya, melangkah dengan sedikit menyeret kakinya. Dia bahkan sedang bermimpi indah tadi dan tidak begitu rela meninggalkan mimpinya bersama kekasihnya hanya demi sebuah ketukan pintu.

Tapi, yah…hal ini tetap harus dilakukan mengingat siapapun itu bisa menyebabkan keributan antar penghuni gedung.

Tangannya sudah hampir menyentuh pintu ketika ketukan itu sudah tak terdengar. Hening, membuat kening Aerin berkerut. Rasa anehnya sama seperti baru saja ada orang yang mematikan musik yang distle dengan volume keras.

Buka atau tidak..? Gadis itu masih termangu, menimbang apa yang sekiranya baik dia lakukan…buka atau tidak…?

Well…akhirnya tetap rasa penasarannya akan mengalahkan segalanya. Aerin membuka pintu depan dan yang pertama kali dia lihat adalah…kosong…

Ya kosong…alias tak ada atau bisa juga disebut nihil.

Kerutan di kening gadis itu semakin bertambah. Kosong…? Apa benar tadi dia hanya bermimpi..? Tapi, suara tadi…?

Kepalanya sibuk menoleh kekanan kekiri. Lorong di sepanjang kamarnya kosong tak ada seorangpun baik manusia atau bukan yang tampak berkeliaran di sana.

Kerutan didahi sekarang berganti menjadi kerucut bibir. Sial…sial…jadi, dia rela meninggalkan mimpi indahnya hanya demi orang sinting yang mengerjainya. Oh….brilliant…!

Aerin sudah berniat membanting pintu rumahnya ketika matanya menangkap sebuah amplop di bawah kakinya.

Nah…bisa di tebak jika rasa penasarannya tetap mengalahkan segalanya.

Di ambilnya amplop itu, tak ada nama pengirim, hanya sebuah kalimat singkat jika amplop itu memang untuknya.

Apa ini…? Surat cinta…? Atau surat tagihan atau sebuah pesan dari pengagum rahasia…?

Apapun itu, Ae berharap surat ini akan memberinya hal berguna karena sudah membuatnya bangun dari tidurnya yang nyaman.

Jarinya mengelus keliman amplop dan tersentak sedikit ketika lipatan itu terbuka dengan mudah. Sebuah kertas surat ungu muda tersembul keluar. Aerin membuka kertas itu dengan sedikit tak sabar. Barisan tulisan tangan rapi langsung menyapa penglihatannya. Huruf-huruf indah milik Ryeo nya… ya..tak salah..ini memang tulisan tangan kekasihnya itu. Tapi, untuk apa…kenapa kekasihnya itu tiba-tiba menulis surat untuknya..?

Sambil menahan tanya, Aerin mulai membaca satu demi satu kata yang terangkai.

Dear my lovely baby….

(astagaa..bagaimana bisa pipinya merona hanya dengan membaca satu kalimat ini saja..?)

Aku tahu, kau mungkin akan cemberut ketika menerima surat ini, maaf karena aku sudah mengganggu pagimu, Sayang…

(Aerin menggeleng pelan, terkikik sambil menutup mulutnya).

Tapi…aku janji, aku akan mengganti semua kerugianmu karena aku telah membuatmu bangun pagi….

(kali ini rona panas itu sudah sampai ketelinga Ae)

Hei..hei..jangan merona seperti itu, Love…

(“Aku tak merona Oppa…”, Aerin bermonolog, menggigit bibirnya menahan senyum.)

Jadi..seperti ini Love…aku punya satu permainan untukmu..apa kau mau…?

(kepala gadis itu mengangguk cepat)

Tapi..ini akan sedikit menguras tenaga, dan aku harap kau tak keberatan. Aku akan memberimu petunjuk, pertama pergilah ke toko kue di ujung jalan dan dapatkan apa yang akan kau temukan disana…

(Aerin sudah akan berlari saat itu juga ketika matanya menangkap kalimat Ryeo di paragraf terakhir)

Love…tentu kau tak akan lupa untuk mencuci muka lebih dulu kan…?

Sincerely..

Ryeo
.
.
.
.

Wajah Aerin sekarang sudah bisa disamakan dengan merahnya kepiting rebus. Kepalanya kembali sibuk mencari dan tetap nihil, tak ada tanda yang menunjukkan adanya kekasihnya disana.

Secepat kilat gadis cantik itu berlari ke kamar mandi, membersihkan diri, menggosok gigi, siapa tahu nanti Ryeo akan menciumnya, dan bergegas kembali lagi keluar apartemen, menuruni anak tangga, dua sekaligus sekali lompat.

Menormalkan sejenak nafasnya yang terengah, sebelum mengayuh sepedanya ke ujung jalan.

Sebuah toko kue. Toko kue langganannya dan Ryeo. Aerin ingat jika mereka berselisih pendapat, maka hanya perlu sepotong cheese cake dari toko ini untuk mendamaikan mereka.

Sepeda Ae berhenti tepat di depan toko, meneliti toko itu dari sudut ke sudut, mencoba mencari apa yang sekiranya bisa dia temukan.

Hingga mata bulatnya menangkap amplop yang sama, hanya kali ini lebih besar, terselip di pintu depan toko.

Dengan antusiasme yang berlebihan gadis itu meraihnya, membukanya dan menemukan surat ungu yang sama. Dan satu lagi, dengan sebuah huruf kertas besar.

Huruf W…? Untuk apa Ryeo memberinya huruf W.. ?

Mata Aerin kembali menyusuri surat di tangannya.

Wahh..kau cepat sampai Love…kau berhasil mendapatkan suratmu yang pertama, dan ini petunjuk kedua.

Bersepedalah 10 menit ke utara dan kau akan bertemu petunjuk selanjutnya..

Oh..jangan lupa bawa hurufnya Love..
.
.
.
.
.

Kerutan di dahi yang sempat hilang itu kembali. 10 menit…? Oh..baiklah…demi Ryeo akan dia lakukan.

Aerin kembali mengayuh sepedanya, ke utara, tepat 10 menit dari toko kue tadi.

Dan, sepedanya berhenti didepan sebuah Cafe.

Illusionist cafe.

Aerin ingat tempat ini, adalah tempat pertama kalinya dia bertemu Ryeo. Pertemuan tak sengaja 1 tahun lalu, ketika dia sedang sibuk meratapi patah hatinya.

Lagi-lagi Ae melihat amplop yang sama. Tanpa pikir panjang Aerin meraih kertas yang ada di dalamnya. Sebuah surat dan kali ini dengan huruf, 3 buah huruf lebih tepatnya.

“Sekali lagi selamat Love…kau menemukan tempat ini, tentu kau masih ingat tempat ini, bukan…?

Ya…tempat ini adalah tempat Tuhan mempertemukan kita untuk pertama kalinya, dan yeah..hal itu adalah hal yang akan selalu aku syukuri seumur hidupku. Dan well…karena kerja kerasmu kali ini aku akan memberimu 3 buah huruf.

(Aerin mengambil 3 huruf yang dia dapatkan, I L L)

Kau tahu Baby, 3 huruf ini adalah 3 huruf terdepan dari nama Cafe ini, dan aku harap kau juga tak akan pernah melupakan kenangannya…

Jadi, siap untuk petunjuk selanjutnya, Baby..?

Baiklah…bersepedalah lagi 15 menit ke barat dan…sampai jumpa disana…”
.
.
.
.

Aerin melipat kertas ungu muda itu dengan rapi, bergegas kembali melanjutkan perjalanannya.

Huruf-huruf ini, dia sudah mendapatkan 4. Huruf pertama W dan 3 huruf berikutnya I L L.

Will…? Will apa…? Apa yang sebenarnya ingin Ryeo katakan…?

Aarrrggghhh…

Sebelum rasa penasaran membuat kepalanya pecah, Aerin bergegas mengikuti petunjuk selanjutnya. Mengabaikan tetesan keringat yang mulai membasahi muka dan kaos yang dia pakai.

Ugghh….sungguh, jika bukan demi kekasihnya itu, jangan harap Ae akan rela melakukan ini semua.

Gadis itu menghentikan kayuhannya ketika tepat 15 menit. Sesuai petunjuk kekasihnya.

Dan…apa yang dia temukan justru semakin membuatnya tak mengerti.

Aerin berdiri diam di depan bangunan putih besar itu. Sebuah rumah sakit.

Oh….kalian jangan berfikir tentang hal buruk. Tidak..tidak…Ryeo nya tak ada disini.

Tunggu…sejak tadi dia sudah dibuat mengelilingi tempat-tempat yang merupakan tempat penuh kenangan bagi mereka. Atau bisa juga di katakan sebagai tempat favorit Ae dan Ryeo.

Pertama, toko roti tadi, lalu cafe tempat pertama kali mereka bertemu, dan sekarang rumah sakit ini.

Ingatan Ae mau tidak mau kembali pada kenangan itu. Ditempat inilah, Aerin menyadari jika Ryeo sangat berarti untuknya. Dia tak bisa kehilangan ataupun jauh dari pemuda itu, tak akan pernah bisa.

Saat itu, untuk pertama kalinya mereka bertengkar hebat, hingga mengakibatkan Ryeo nya menghilang entah kemana.

Aerin masih ingat juga ketika saat itu dia berusaha menekan rasa khawatirnya dan mengedepankan ego.

Entah siapa yang mengabarinya saat itu, yang jelas beberapa hari berikutnya Ae tahu jika ternyata Ryeo nya jatuh sakit. Ya..kekasihnya itu dirawat disini. Susah payah Aerin menahan dirinya untuk tak berlari saat itu juga menemui Ryeo.

Dan yeah…hasilnya sudah bisa di tebak bukan Aerin justru merasa semakin sakit. Dan satu malam itu dia menyerah, berlarian di sepanjang lorong rumah sakit dan menubruk tubuh Ryeo yang sedang tertidur. Membuat kekasihnya itu terlonjak kaget, tak lama karena pria itu justru semakin bingung melihat Aerin yang menangis tergugu di dadanya sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali.

Ya…tempat ini..tempat yang mengingatkannya jika dia tak mau kehilangan Ryeo.

Aerin menyusuri taman rumah sakit itu, menyapukan pandangannya kesekeliling area yang dia ingat benar itu.

“Hei Nona…”

Langkah Aerin berhenti. Seorang perempuan paruh baya terlihat menghampiri dirinya.

“Iya Bibi…”

“Kau yang bernama Aerin…?”

Gadis itu mengangguk.

“Ada seseorang yang menitipkan ini untukmu…”

Aerin menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. Mengucapkan terimakasih pada Bibi yang tersenyum tulus untuknya itu.

Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke bangku taman terdekat.

Hello lagi Love…

Wahh..kau sungguh hebat, bisa menemukan amplop ketiga ini dengan begitu cepat.

Aku tahu, kau tentu sudah paham dengan arti dari tempat ini kan…?

Benar…di tempat ini kita sama-sama belajar dan tahu jika kita tak bisa jika tak bersama. Aku masih ingat betul tangismu saat itu Love…

(Bibir Aerin mengerucut sebal)

Oh…oh..jangan mengerucutkan bibirmu Baby…atau aku tak akan tahan untuk tidak mengecupnya…

Dan karena kau telah berhasil, aku akan berikan satu lagi huruf untukmu..dan maukah kau sekali lagi mengikuti petunjukku…?

Bersepedalah lagi 10 menit ke selatan dan aku janji, kita akan bertemu disana…
.
.
.
.
.

Aerin memandang huruf yang kini ada di tangannya.

W I L L dan U…

Will U…? Will U apa…? Apa yang Ryeo inginkan darinya..? Will U…oh apakah mungkin…?

Tapi..tidak…tidak…

Aerin menggigit bibirnya, menggeleng kuat-kuat. Apapun itu akan dia ketahui nanti, yang harus dia lakukan sekarang hanya mengikuti semua petunjuk Ryeo.

Kayuh…dan kayuh lagi…sesekali mata Aerin melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, memastikan jika waktu yang dia gunakan akan tepat 10 menit sesuai petunjuk Ryeo.

Perjalanannya berakhir di Jehwangsan Park.

Oh…jadi, kekasihnya itu mengakhiri perjalanannya di sebuah taman…? Khas Ryeo..romantis sekali.

Aerin menuntun sepedanya, mencari bangku kosong untuk sekedar beristirahat dan menunggu Ryeo.

Gadis itu sibuk menolehkan kepalanya, mencari jika saja dia melihat Ryeo. Helaan nafas itu terdengar ketika matanya tak menangkap adanya kekasihnya itu dimanapun.

Kau dimana..?

Aerin membuka kembali 5 huruf yang dia kumpulkan. Will U… apa Oppa…apa yang kau ingin aku lakukan…?

10 menit berlalu, dan masih tak ada tanda jika Ryeo akan datang. Perasaan khawatir mau tak mau menyelinap di hatinya. Kemana Ryeo..?

Ponsel Ae bergetar pelan. Sebuah pesan gambar, dimana nama kontak kekasihnya sebagai subyek pengirim.

Jari jari Ae menggeser beberapa tombol.

Sebuah potret huruf M besar dengan kepala Ryeo menyembul di tengah-tengah lekuk bentuk huruf.

M…? Huruf selanjutnya adalah huruf M..?

Ae tersenyum simpul memandang kepala kekasihnya yang sedang tersenyum itu. Senyum polos Ryeo nya yang selalu membuat Ae tergila-gila.

Jadi…6 huruf sudah…

W I L L U dan M

Tapi apa…?

Aerin sudah akan membalas pesan itu ketika ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan gambar lagi, dari orang yang sama.

Sedikit antusias gadis itu membuka pesannya. Kali ini gambar sebuah novel. Ae tahu dan hafal benar jika novel itu adalah bacaan favoritnya.

Ryeo memfokuskan kamera pada judul novel itu hingga hanya terbaca huruf A R R Y nya saja.

Tunggu…

W I L L lalu U… M dan A R R Y…?

Will u mar…will u marry…

Oh God… mata bulat Aerin membola. Gadis itu membekap mulutnya dengan telapak tangannya. Astaga… tinggal satu kata lagi jika kalimat itu sesuai dengan apa yang Ae pikirkan, dan kali ini Ae yakin dirinya benar.

Ponsel Ae kembali berdenting dan here we come…

Pesan gambar itu terbuka. Bukan huruf atau tulisan, hanya sebuah foto tampan milik Ryeo.

Mau tak mau Aerin terkekeh pelan, mengabaikan butiran-butiran bening yang kini menuruni pipinya.

Lengkap…semua petunjuk itu kini sudah menjadi petunjuk lengkap, kalimat ‘Will U Marry’ dan foto diri Ryeo yang Ae artikan sebagai kata ‘Me’.

‘Will U Marry Me…?’

Aerin menekan tombol ponselnya, menempelkan benda kotak itu ke telinganya, menunggu sebentar sebelum sambungan itu terjawab.

“Oppa…”

“Morning, Love…”

Deg…

Aerin menjauhkan ponselnya ketika suara sapaan itu terdengar dekat sekali dengan telinganya. Ditambah hembusan nafas hangat dan lengan yang melingkari tubuhnya.

Dengan cepat gadis itu menolehkan kepalanya dan sesuatu yang lembut itu langsung menangkap bibirnya. Bibir Ryeo.

Ciuman itu tak berlangsung lama, tapi cukup untuk menyebarkan panas di seluruh wajah Aerin.

“Oppa…?”

“Yess Love…”

“Jadi ini…”

Ryeo memutar tubuh Ae, pemuda itu mengenggam kedua tangan gadisnya.

“Jadi…kau mau menikah denganku atau tidak…?”

“Atau tidak…?”

“Ku mohon jangan menjawab tidak…” Raut wajah Ryeo terlihat penuh khawatir.

“Kau memintaku menjawab ‘ya’, Oppa..?”

Ryeo berdecak kesal.

“Jawab saja, Sayang…”

“Aku…aku…aku…”

Ryeo mulai bergerak gelisah.

“Aku…tentu saja aku mau, Oppa…!!” Wajah Aerin sudah sama cerahnya dengan mentari pagi.

“Aku tak dengar, Love….”

“Oppa…!!” Aerin memukul pelan dada Ryeo, membuat pemuda itu menenggelamkan gadis itu dalam dekapannya.

“Ya Oppa…aku mau…jadikan aku Nyonya Ryeo, Oppa…miliki aku…”

Dua bibir itu kembali bertemu, kali ini dalam satu kecupan panjang yang akan mampu menyatukan semua.

Ryeo dan Ae tahu, jika ini bukanlah akhir dalam kisah mereka. Ini sebuah awal, sebuah awal indah untuk kisah mereka dalam satuan waktu yang lain.

Dan yeah…awal yang indah tentu akan menghasilkan perjalanan yang indah, bukan…??

****end****

Note:

Zengri kualie Didi n Mei mei ^^

Happy first Anniversaryyy ….bersemangatlah untuk perjalanan indah kalian berikutnyaaa ^^

Sorry for typos n gajeness.. *di tabok rame2

Diubuqi..Jiejie hanya mampu memberi ini sebagai hadiah…*bow..

Long last yaaa *kecup atu atu

Buat semua yg sudah membaca.. TERIMAKASIH BANYAK…!!!!

Paaaaiiii…see ya in another story ^^

–misshan–

Dream….(part.5)

Dream….(part.5)

By. Aechan Kim

Rate : M

Genre: Romance

Cast: HanGeng, LiXu a.k.a Kim Ryeowook n OC

Disclaimer: Im only own the story line… chara isnt mine

~~happy reading~~

Seorang pemuda tampan baru saja melangkah keluar dari bandara Paris. Merapikan jas tebalnya sebelum bergerak mencari taxi. Hufhh…ingin rasanya dia bisa segera sampai di tempatnya istirahat. Lelah karena perjalanan jauh sungguh mendera tubuhnya. Membuatnya ingin segera bergelung dalam buntalan selimut bulu yang nyaman. Dan pria itu berlalu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Menjelang petang Huang Meihui mulai berfikir untuk merevisi keputusan yang di anggapnya gila. Bagaimana tidak gila jika dia dengan tiba-tiba dan tanpa disengaja..oh bukan..yang ini jelas merupakan kesengajaan, menerima ajakan pergi berdua, entah kencan entah jalan-jalan biasa yang jelas hanya berdua, ya ber-dua, dengan pria yang baru saja dikenalnya.

Tapi, jika ingin menyalahkan, lebih baik salahkan rasa penasaran Mei yang sudah di ubun-ubun. Penasaran tentang apapun yang pria itu lakukan. Bagaimana pria itu bisa menebak namanya dalam waktu relatif singkat, juga fakta jika pria itu selalu muncul hampir dimanapun dan kapanpun Meihui berada.

Perempuan muda itu berulang kali, menimbang dan memilih, hingga…yeah…bisa ditebak kan mana yang akan menang, tetap rasa penasarannya. Dia harus memuaskan rasa itu, rasa ingin tahu pada pria yang dengan berani dan tanpa seijinnya mulai bisa membuatnya merasakan rindu.

Rindu…? Apa terlalu aneh jika dia memang sempat merasakan sesuatu yang Meihui asumsikan sebagai rasa rindu. Entahlah…rindu atau bukan dia tak peduli. Saat ini yang Meihui yakini ada dalam hatinya hanya rasa ingin tahu, tak lebih…!

30 menit berlalu dari janji mereka, tapi Meihui masih belum beranjak dari depan cermin. Dia yang tak pernah mengenal kata berdandan lama, kali ini sengaja berlama-lama di depan kaca. Bukan untuk berhias, hanya untuk mengulur waktu.

Pikirannya masih sibuk berperang antara pergi ataukah tidak….

Hingga saat beranjak ke Seine pun Meihui masih tak menemukan alasan kuat apa yang bisa membuatnya beranjak dari tempatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sudah berapa lama Han berdiri disini…? 30 menit…satu jam atau lebih…? Untuk kali ini dia tak peduli. Baginya, dia bahkan rela berdiri seumur hidupnya hanya untuk menunggu gadis itu. Well..sangat tak terdengar seperti Han yang biasanya kan…? Dan jelas-jelas menggelikan.

Han melipat tangannya di depan dada, memandang Seine yang mengalir tenang. Pantulan bayang wajah seseorang terbias di riak air sungai yang sekelam langit di atas sana.

Wajahnya terlihat tenang, tapi lain yang terjadi didalam sana. Dadanya tak berhenti berdetak cepat sejak dia mengendap kabur dari hotel tadi. Well….adiknya ada disini dan itu artinya akan ada orang tambahan yang siap menginterogasinya selain Sekretaris Cha dan Paman Jang. Dan Han yakin, jika seringai lebar di wajahnya tak akan mampu menipu mereka semua ketika dia berkata jika dia hanya ingin jalan-jalan, dan kabur diam-diam adalah pilihan yang terbaik.
.
.
.
.
.
.

Perempuan itu sibuk mencari sosok yang dia kenali di tepian Seine, berusaha sekeras mungkin menajamkan pandangan matanya. Kemana dia..? Bukankah mereka berjanji bertemu disini..? Atau pria itu sudah pergi karena dia terlambat datang…?

Pencariannya terhenti ketika Meihui melihat pria itu sedang berdiri memunggunginya menatap jauh ke arah Seine.

Berbalut sweater abu-abu dan jeans hitam yang membungkus kaki panjangnya membuat kata ‘Sexy’ tercetak besar dalam otak Mei. Ugh…kata yang hampir membuat Mei membenturkan kepalanya ke pagar pembatas sungai. Ya Tuhan…bisa bisanya dia tak fokus dan berfikiran kotor hanya karena melihat kaki jenjang seorang pria. Ayolah…dia kesini hanya untuk memuaskan rasa penasarannya bukan untuk terpesona pada kaki atau bagian tubuh manapun dari pria itu.

Gadis itu masih sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri untuk terus mengamati atau mengabaikan ketampanan Han, ketika tangannya di tarik seseorang.

“Aku pikir kau tak datang….”,orang itu masih terus menarik tangan Mei, membuat gadis itu mau tak mau mengikuti kemana si pria menuntunnya.

“Mei..kau tak apa-apa..?”

“Oh..ya…apa…tidak..tidak…”

Hei…kenapa dia jadi gugup….?

Bisa Meihui lihat jika pria di depannya itu menaikkan sebelah alisnya.

“Kau bilang apa..?”

“Aku pikir kau tak datang…”

“Siapa kau..?”

“Apa maksudmu…?”

“Tsk..kau..dan kehadiranmu selama beberapa hari ini..bagaimana bisa kau selalu muncul dimanapun aku berada..?”

“Namaku Han Geng…kau boleh memanggilku Han jika kau mau…dan yah..tak ada yang perlu kau khawatirkan ataupun hal aneh yang sedang terjadi…anggap saja aku ini jodoh yang dikirimkan Tuhan untukmu…”

Mata bulan sabit Mei melebar.

What the hell are going in here…

Bagaimana bisa pria ini memiliki kadar percaya diri yang berlebihan seperti ini….?

Jodoh dari Tuhan…? Heck…pertemuan mereka saja bisa dihitung jari…

“Kau tak percaya padaku…?”

Han menatap wajah gadis di hadapannya itu yang tetap memasang ekspresi tak terbaca. Jujur saja, hal ini juga membuat Han frustasi. Karena harus menebak-nebak apa yang sebenarnya dipikirkan gadis itu.

“Mari kita bertaruh dan aku yakin aku akan mampu membuatmu percaya…”

Belum sempat Mei mencerna kalimat Han, bahkan daun maple yang jatuh itu belum sempat menyentuh tanah, tapi sesuatu yang hangat, lembab dan basah itu sudah menyentuh bibir Meihui. Bukan kecupan, hanya satu sentuhan dari bibir ke bibir.

Deg…deg…

Detak tak teratur itu kembali menggema dalam diri Mei. Denting kehidupan yang telah lama tak terusik di dadanya kini terbangun. Bukan rasa bahagia hanya penuh tanya ketika desir aneh itu mulai kembali merayapi relung kalbunya.

‘Kenapa….? Apa ini Tuhan…? Dia hanya menyentuhku seperti ini dan kaki ku langsung berubah menjadi agar-agar…?’

Tak jauh berbeda dengan Mei, Han pun merasakan hal yang sama. Hanya satu sentuhan dan dia merasakan dadanya pecah karena debur gemuruh yang meronta di dalam sana. Desir gairah yang tak pernah dia alami secara nyata kini menyapu dirinya.

Ya Tuhan….

Sentuhan tiba-tiba itu membuat tubuh Mei nyaris terjerembab jika Han tak melingkarkan lengannya ke pinggang gadis itu, menahan agar tubuh Mei tak menyentuh tanah.

PPPLLAAAKKK…!!!!!!

Tamparan itu menggema kesemua sudut Seine yang sepi.

“Kau..!!!” Mei mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Han yang memerah karena tamparannya. Sakit yang sama dengan yang dirasakan tangan Meihui.

“Berani…beraninya kau…”, gadis itu berusaha mengucapkan kata-katanya dengan nafas tersengal dan mata menyipit menahan emosi.

Gadis itu berbalik, melangkah pergi secepat yang dia bisa.

Pria sialan… jika tahu akan seperti ini, Mei tak akan pernah menerima ajakannya.

“Jangan menangis Mei…atau dia akan melecehkanmu lagi…”, gadis itu masih berusaha mensugesti dirinya sendiri, menahan tangis yang ingin mengalir ke ujung mata.

Kali ini langkah nya kembali terhenti. Bukan hanya karena tarikan di lengan tapi karena dekapan erat yang melingkari dadanya.

“Ku mohon dengarkan aku…”

“Lepaskan aku..”, desis Mei.

“Tolong Mei…”

“Lepaskan aku…!!!” Gadis itu meronta, berusaha melepaskan lengan yang masih memeluk tubuhnya.

“Dengar…kau boleh memukul dan menamparku, atau apapun itu…kau boleh melakukan apa saja Mei…apa saja..tapi jangan pergi dariku…”

Rontaan itu terhenti ketika Han selesai mengucapkan kalimatnya. Mei terdiam, sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Posisinya dengan punggung yang menempel di dada Han membuatnya bisa merasakan detak jantung pria itu.

Detak yang semula tenang itu mulai menggila hingga perlahan berangsur tenang kembali ketika Han semakin erat mendekapnya.

‘Begitu besarnyakah pengaruh dirinya bagi pria ini, hingga mampu mempermainkan desir di tubuh Han…?’

“Ku mohon jangan pergi dariku…atau memintaku pergi darimu…karena aku dengan keras kepala akan datang padamu lagi..dan lagi….”

“Kenapa…?”

Ya..kenapa..? Hanya itu pertanyaan yang sanggup di keluarkan bibir Mei.

“Karena kau sudah membawa hatiku sejak bertahun-tahun lalu..”

Bertahun-tahun..? Apa pria ini gila…? Bertahun apanya…mereka bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu.

Gadis itu masih membisu, membiarkan saja posisi tubuh mereka tetap seperti ini, dengan dirinya tetap dalam dekap hangat Han.

Kenapa Tuhan…? Kenapa ini justru membuatnya merasa nyaman, terlindungi dan rasa hangat yang tak pernah lagi dia rasakan sejak kepergian orang itu. Pria yang membawa hatinya ketempat yang tak lagi bisa dia kunjungi.

Kenapa Tuhan..? Apa Tuhan mengembalikan hatinya…?

Han masih memeluk gadis itu. Tak ingin melepaskannya lagi. Biar saja dan dia tak akan peduli jika Meihui akan menertawakannya. Han tak lagi mau peduli. Yang dia katakan jujur, murni dan tulus dari hatinya. Dia memang benar-benar mencintai gadis itu.

Dua insan itu masih berdekapan, ah bukan…salah satu mendekap yang lain. Si gadis memejamkan mata, pasrah pada rasa nyaman yang tiba-tiba membuatnya sadar seberapa lelahnya dia. Meihui ingin beristirahat. Sejenak saja. Pria itu tetap melingkarkan lengannya. Seolah bersedia berbagi apapun dengan gadis dalam pelukannya itu.  Entah sadar atau tidak, 2 pasang kaki itu mulai bergerak perlahan, berdansa dalam diam. Dengan iringan musik angin musim gugur Paris yang berbisik romantis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Hari masih pagi, tapi Han sudah sibuk mengetuk pintu kamar adiknya. Bukan mengetuk, memukul lebih tepatnya, karena jika saja hotel ini tak memiliki standar peredaman yang bagus untuk setiap kamar, maka bisa dipastikan semua penghuni lantai 15 akan menyumpahinya.

Sekali, dua kali, hingga kesekian kali, pintu itu tetap tak bergeming, membuat pria itu memutuskan menelepon staf hotel untuk meminta kunci cadangan.

Yeah…bagaimanapun juga dia tetap saja khawatir…andai saja terjadi sesuatu pada adiknya. Oh tidak…dunia pasti tak akan seru lagi tanpa sikecil yang selalu mengerecokinya itu.

Tarikan nafas lega Han langsung terdengar begitu melihat jika adik kecilnya itu masih bergelung dalam selimut tebalnya.

Pria itu mematikan pemanas ruangan untuk kemudian beranjak ke tepi ranjang, mengacak pelan surai hitam Aerin.

Ahh..kenapa tiba-tiba dia begitu merindukan celoteh riang saudaranya ini..? Sejak kemarin Aerin tak banyak bicara, entah apa sebabnya, mungkin masih merajuk pada ejekan Han ketika di Crescent Moon kemarin.

Gadis kecilnya tak banyak berubah. Masih tetap manja, manis dan cerewet seperti biasa. Mungkin dia harus sering-sering meluangkan waktu untuk Aerin, tanpa ada beban, tanpa ada embel-embel apapun, hanya mereka seperti saat mereka kanak-kanak dulu.

Sekali lagi Han mengusap kepala Aerin. Meletakkan semangkuk bubur panas yang ada di tangannya dan bergegas melangkah keluar. Dia tak mau mengambil resiko Aerin bangun dan menemukannya disini.

Well..menunjukkan perhatian terang-terangan sangat bukan type Han.

Mungkin dia bisa kabur lagi sebentar ke Crescent Moon setelah tadi pagi sukses mengganggu gadis itu untuk membuatkannya bubur. Tak ada salahnya mengerecoki Meihui sekali lagi. Ugh…dia suka sekali ketika gadis itu melemparkan tatapan tajam disertai rona malu-malu. Oh…tidak…membayangkannya saja membuat celananya kembali sesak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Gadis cantik itu membuka matanya, menguap sebentar dan mengerutkan kening ketika menyadari ada yang berubah dalam ruangannya. Siapa yang mematikan pemanasnya….? Seingatnya semalam dia menyalakannya.

Baru saja dia ingin turun dari ranjang ketika matanya menangkap semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap hangat dan secarik kertas.

‘Makan..habiskan dan aku ada urusan..’

Aerin mendengus, pesan yang sangat singkat. Teramat singkat khas kakaknya. Tanpa banyak basa basi. Kadang Ae sendiri heran, bagaimana pria itu bisa hidup tanpa banyak suara.

Aerin mengambil bubur itu, harum aroma rempah-rempah langsung menyapa indra penciumannya. Enak…!! Dalam sekejap tandas tak tersisa.

Mata bulat Aerin kembali mencermati tulisan kakaknya.

Aku ada urusan..!!

Well…itu artinya jika Han tak akan bisa diganggu. Walau Aerin berteriak dihadapan pria itu pun, Han tak akan membatalkan urusannya.

Aerin tak mau tahu urusan apa, mungkin yang berhubungan dengan perusahaan atau mungkin juga satu hal yang berkaitan dengan gadis pelayan yang kemarin. Sial…karena terlalu sibuk merajuk Ae sampai lupa untuk menggoda kakaknya tentang gadis pelayan resto kemarin.

Merasa tak mau mati bosan jika dia harus terkurung seharian dikamar, Aerin bergegas membersihkan diri. Tak ada salahnya dia berjalan-jalan sebentar ke Eiffel. Siapa tahu akan ada kejutan untuknya…
.
.
.
.
.
.

Langkah-langkah kaki Ae berjalan ceria di taman Eiffel. Mata bulatnya sibuk menatap icon Perancis itu dengan tatapan ala bocah 5 tahun yang membiaskan binar cantik diwajahnya.

Gadis itu berdiri diam di bawah Eiffel. Menengadah ke arah puncak menara yang tampak kecil. Bibirnya mengulas senyum lembut sebelum mengucapkan sebaris kata.

“Tuhan…bolehkah aku meminta..? Dulu saat kami masih kanak-kanak, Kakak pernah berkata jika suatu saat dia akan menemukan pangeran tampan untuk Ae…dan kini kami ada disini, bisakah Kau ijinkan aku bertemu pangeranku sekarang…?”

Aerin tak tahu kenapa dia mengucapkan doa seperti itu. Hanya saja debar debar halus yang ada di hatinya kini membuatnya penuh gairah. Senyum kembali terulas di bibirnya ketika gadis itu berbalik hendak meneruskan langkah.

Dan saat itulah sepasang kristal bening itu tertangkap matanya. Manik jernih milik seorang pemuda yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Terpaku mengunci pandangan Aerin.

Tampan…!!!

Komunikasi tanpa suara itu terjadi sepersekian menit, namun cukup untuk mengungkapkan semua rasa yang mungkin mulai ada.

Aerin yang pulih terlebih dahulu dari keterkejutannya memutuskan kontak mata mereka, tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. Berlalu sambil tetap mengulas senyum. Pemuda tadi, siapakah…? Pangerannya kah..? Atau…?
.
.
.
.
.
.
.

Li Xu masih membeku di tempatnya berdiri. Sesekali menatap punggung gadis yang baru saja melintasinya, dan beralih pada pucuk menara Eiffel.

Li Xu sedang menikmati jalan-jalan paginya ketika tanpa sengaja telinganya menangkap sebaris kalimat yang di ucapkan gadis itu. Permohonan aneh yang membuat LiXu menghentikan langkahnya.

Gadis yang cantik….dan debar halus di dadanya itu saat pandangan mereka bertemu tadi..rasa apa itu….?

Li Xu tersenyum tulus. Dia tahu, ini bukan pertemuan terakhir mereka. Entah bagaimana Li Xu memiliki firasat jika mereka akan terlibat satu kisah rumit dan manis..dan Li Xu akan dengan senang hati menunggu saat itu tiba.

So… I will wait to meet you again, Princess….

*****tbc*****

Note:

Ni haaoooo…

Part.5 nya semuaaa…

Buat the real authornim KIM AECHAN.. so much thankyou…*kecup kanan kiri

Dan buat semua yang mau berkunjung dan membaca… TERIMAKASIH BANYAKK….!!!!!

See u in other post..

Paaaiiiii….

–misshan–

Dream….(part.4)

Dream…..(part.4)

By. Aechan Kim

Rate: M

Cast: HanGeng, Kim Ryeowook a.k.a Li Xu n Oc

Genre: Romance

Disclaimer: Im only own the storyline, chara isnt mine

~~happy reading~~

Lagi dan lagi, hingga sekretaris Cha sendiri lupa untuk yang keberapa kalinya, dirinya di buat pusing dengan ulah Boss nya itu. Ya Tuhan…orang itu akan sangat tampan jika mau bersikap manis dan penurut, bukannya bertingkah seperti bocah TK yang akan demam tinggi jika keinginannya tak dituruti.

Kali ini yang menjadi penyebab denyut kepala Sekretaris Cha adalah keinginan Han untuk memperpanjang jadwal mereka di Paris, bahkan jika mungkin, pria itu ingin semua urusan perusahaan di pindahkan ke Paris saat itu juga.

What the….

Sekretaris Cha hanya bisa memandang kosong jadwal yang sudah dia susun rapi, harus merombaknya sebagian, bukan sebagian tapi banyak bagian..oh..semuanya kalau seperti itu.

Paman Jang hanya mampu menepuk nepuk bahunya dengan penuh kasih. Oh astaga…sebenarnya apa yang membuatnya mau bertahan….jika bukan karena mata polos gadis itu…

Ah…lebih baik tak membahasnya sekarang…

Yang harus dia lakukan hanya satu, merombak semua jadwal itu atau yeah…nasibnya akan berakhir jika dia berani menolak. Bukan pilihan yang mudah…

Beruntung bagi Sekretaris Cha, setidaknya dia bisa bekerja dengan tenang karena bayi besar itu sudah menghilang entah kemana. Lagi…? Hal ini juga membuat Sekretaris Cha pusing karena Han mengabaikan fakta jika dirinya adalah orang paling penting bagi karyawan GG Mall di seluruh dunia.

Kemana perginya Han Geng..? Oh…bukankah sudah jelas, hanya satu jawaban, Crescent Moon. Bukannya pihak hotel tak menyediakan sarapan atau apa, hanya saja..yah..alasan konyol yang dinamakan jatuh cinta.

Pria itu duduk diam dalam mobil putihnya, mengamati setiap detail resto kecil itu. Belum buka, tentu saja, ini masih pukul 7 pagi.

Oh…lagi-lagi dewi keberuntungan berpihak padanya, ketika yang dia harapkan muncul, kali ini dengan berbagai macam barang yang membuatnya cukup sibuk.

Mungkin ini saatnya dia mencoba sok pahlawan.

“Biar ku bantu…”

Gadis itu sedikit tersentak ketika Han tiba-tiba menahan salah satu lengannya yang membawa kantung belanja. Well..siapa yang tak akan kaget jika tiba-tiba muncul seseorang yang memegang belanjaanmu.

“Thanks…” gadis itu hanya menjawab singkat. Singkat yang begitu membuat Han gemas. Tak bisakah dia mengucapkan kalimat lebih panjang…?

“Letakkan saja semuanya disana….Emily akan membereskannya nanti….Terimakasih banyak…”, gadis itu menunjuk sudut ruang, mengucapkan kalimatnya dalam bahasa Inggris dengan logat oriental yang terdengar aneh. Tak lupa membungkukkan badannya sedikit dan berniat berlalu.

Oh ya ampun…apa gadis itu tak sedikitpun melihat ada pria tampan macam Han disini… Han menyumpah nyumpah dalam hati.

“Tunggu….”

Gadis itu berhenti.

“Kau orang Asia…?”

“Apa itu penting…?”

“Maksudku…”

“Bukankah kau bisa melihat sendiri jika kau pintar, apa persamaan kita…”

Skak mat. Gadis ini…berbeda..bukan seperti gadis lain yang dengan senang hati akan melompat ke pangkuannya bahkan sebelum Han sempat menanyakan nama mereka. Jangankan melompat, meliriknya saja tidak…

“Tunggu….” lagi-lagi Han menahan lengannya, membuat gadis itu kembali memasang wajah datar.

“Bisakah aku memesan semangkuk bubur…. aku belum sarapan…aku bukannya ingin balas budimu..tapi aku benar-benar lapar….”

Bagus Han..bagus…caramu merayu sungguh tak terdengar seperti kau yang biasanya…memalukan.

Gadis itu menatapnya sebentar, seolah menilai apa maksud sebenarnya dari Han. Beberapa detik yang menyiksa, hingga si gadis mengangguk dan mempersilahkan Han duduk.

Pria itu menunggu dalam diam, bersikap semanis mungkin yang bagi siapapun yang mengenal Han akan melihat dia layaknya bocah imut yang menunggu ibunya menghidangkan sarapan. Han bertaruh jika orang-orang itu akan menertawakannya sekeras yang mereka bisa.

Gadis itu kembali dengan semangkuk bubur yang menguarkan uap harum rempah-rempah, dengan segelas teh hangat.

“Tunggu…”

“Kenapa kau suka sekali menahan langkahku..?”

“Karena aku ingin kau tetap disisiku….”, gumam Han.

“Apa…?!!?”

“Oh..anu..itu..eh..maaf…aku….” gadis itu mengangkat sebelah alisnya, berbalik meninggalkan Han yang masih sibuk menyumpahi dirinya sendiri dan menghilangkan kegugupannya.

“Bisakah aku tahu namamu….?”

Gadis itu berhenti.

“Selesaikan makananmu…bubur tidak enak jika dimakan dingin….”, jawab si gadis tanpa membalikkan badan.

Jawaban yang sungguh menyiksa bagi Han.

Apa…atau bagaimana….apa dia akan di beritahu atau apa…

Aaaaarrggghh…gadis itu benar-benar membuatnya gila.

Pria itu buru-buru menghabiskan makanannya, mengabaikan jika bubur itu masih sangat panas, juga mengabaikan teman si gadis yang terang-terangan bertanya tentang siapa dirinya, yang di jawab gadis itu dengan jawaban singkat, angkat bahu.

Han menyesap tehnya, yang baru dia sadari jika ini teh tawar. Bagaimana gadis itu tahu dia suka teh tawar…? Apa dia mengingat pesanan Han kemarin atau….

Ya Tuhan…ya Tuhan…kenapa pria tampan seperti dirinya bisa bertingkah layaknya remaja belasan yang jatuh cinta…?

Saat Han berniat membayar pun gadis itu tetap tak menunjukkan tanda apapun, membuat mulutnya gatal untuk bertanya. Tapi, dia sudah bertanya sekali dan….ah…sudahlah….

Gadis itu menyerahkan bukti pembayaran sekaligus sebuah sapu tangan merah.

“Kau akan menemukan jawabannya disana…”

Han menerima saputangan itu dengan penuh antusias. Membuka sebentar lipatan bagian dalam dan mengembalikannya lagi pada gadis itu.  Kali ini giliran si gadis yang mengernyitkan dahi bingung.

“Terimakasih banyak Huang Meihui…”

Senyum itu terkunci bersama tatapan mata yang bertemu, satu penuh lega dan harap, yang lain dengan tanya dan tak percaya.

“Senang bertemu denganmu, Nona Huang…” Han mengucapkan kalimat itu pelan sebelum melangkah pergi, tanpa tahu jika dia baru saja membuat seorang gadis terpaku.

“Siapa dia..? Bagaimana bisa dia mencari namaku secepat itu…? Dulu hanya Feng gege yang berhasil melakukannya dan kini…siapa dia…?”

Mei masih menatap punggung pria itu hingga dia menghilang dari pandangan.

“Siapa…?”

Dunno, Emily…”

“Sepertinya dia menyukaimu, Mei…”

“What…??!? Oh..shut up Emy…”

Emily tertawa tanpa sungkan. Meninggalkan Mei yang masih sibuk mengira-ngira.

Menyukainya..? Pria itu…? Tidak mungkin…..!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Hari selanjutnya setelah pertemuan yang entah disengaja entah tidak dengan pria itu, kali ini Meihui sama sekali tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Buru-buru menoleh hingga lehernya sakit ketika pintu berdenting terbuka dan mendesah kecewa ketika bukan orang yang dia maksud yang muncul kehadapannya.

Kecewa..? Tunggu…kenapa Meihui harus kecewa…? Bukankah dia selalu mengabaikannya jika pria itu muncul. Lalu, kenapa sekarang dia kecewa…?

Tapi…kenapa juga perasaannya akan jauh lebih tenang ketika pria itu datang…?

Emily yang sedari tadi mengamati tingkah sahabatnya itu diam-diam mengulas seringai aneh.

‘Kau bodoh Meihui…terlalu sendiri membuatmu tak peka untuk menyadari sesuatu…’
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

“Bisakah kau membiarkan hidupku tenang…..”

/”Oh..aku merindukanmu juga Kak…”/

Han mendesah kesal ketika suara di seberang tetap menjawab dengan penuh ceria tak terpengaruh nadanya yang siap menguliti. Pria itu masih menempelkan benda kotak itu ketelinganya.

“Aku tidak…”

/”Aku tak peduli Kakak ku sayang…..”/

Suara di seberang masih saja riang, bahkan sedikit dibumbui dengan tawa geli.

“Apa maumu, Princess….?”

/”Aku dengar kau di Paris…jadi..jemput aku dibandara, okay…?”/

“What…yakk..jangan seenak dirimu…”

/”Baiklah Kak…aku mencintaimu juga…”/

“Yaakk… Ae…damn….”

Pria itu mengumpat pada ponselnya yang telah terputus. Gadis mungil itu…tak bisakah dia membiarkan hidupnya damai.

Hell…ternyata kesialannya bukan hanya kali ini saja. Umpatan-umpatan dari mulut manis Han makin parah ketika Tuan Zhao mengajaknya kepesta miliknya.

God…bagaimana dia bisa menemui Huang Mei lagi…?
.
.
.
.
.
.
.
.

“Kakak…aku merindukanmu…oh ya ampun…tak kusangka kau menjemputku sendiri…aku pikir kau akan menyuruh Sekretaris Cha untuk hhhhmmmpptt….”

Kalimat gadis itu terputus begitu telapak tangan besar membungkam mulutnya. Tangan kecilnya menggapai-gapai berusaha melepaskan diri dari bekapan si pemilik tangan besar.

“Hah…Ka…Kak…Kakak…Hah…kau mau membunuhku ya…kau rela kehilangan adik yang teramat cantik sepertiku…kau tega….”

“Tutup mulut atau ku bungkam lagi…”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya, kenapa sih..saudaranya ini selalu memasang tampang sok serius seperti ini…? Pria ini akan jauh lebih tampan jika dia mau tersenyum dan bersikap lebih lembut.

“Bagaimana kabarmu, Princess….?”

Mata bulat itu membola.

“Huwaa..Kakak…kau masih memanggilku Princess…huwaa..aku menyukainya..aku mencintaimu…kau memang yang terbaik….”

Han meringis, berusaha melepaskan lengan adiknya yang sedang memeluk lehernya sambil melompat riang itu.

Astagaa..belum apa-apa dia sudah merasa begitu lelah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Han Aerin sedang berusaha mengikuti langkah kakaknya yang berjalan di depannya. Sesekali menggerutu ketika sudah berlari kecilpun dia belum bisa menyamai langkah pria itu.

“Bisakah kau pelan-pelan Kak…?”

“Kau saja yang lambat…”

Walau berkata seperti itu, nyatanya Han tetap berhenti sebentar, menunggu adiknya yang tengah mendelik kesal.

“Kita mau kemana…..makanannya benar-benar enak kan Kak…?”

“…tumben Kakak tahu ada restoran bagus…biasanya kan kau tak pernah mau repot-repot berjalan sendiri…Kak…Kakak…yak…jangan mengabaikanku….Kakak…..”

Aerin kembali bersungut-sungut kesal, mengikuti langkah kakaknya yang jauh meninggalkannya. Saudaranya yang ini memang selalu tak banyak bicara. Tapi Aerin tahu jika kakaknya menyayangi lebih dari apapun.
.
.
.
.
.
.
.
.

Crescent Moon tampak ramai, wajar karena ini jam makan siang. Beruntung dua orang itu masih bisa mendapatkan tempat walau di sudut ruangan.

Sementara adiknya tengah memelototi menu dengan semangat, Han justru sibuk mengedarkan pandangan kesekeliling, karena bukan Mei yang menanyakan pesanannya.

Kemana gadis itu…? Bagaimana dia bisa makan dengan tenang jika dia tak melihat gadis itu sebentar saja…?

Han mengernyitkan dahi, hampir memukul kepalanya sendiri ketika pikiran itu terlintas dalam otaknya. Astagaa….bukankah kemarin dia baru saja bertemu dengan gadis itu, lalu kenapa saat ini dia justru sudah sangat merindukannya…?

Mungkin Tuhan memang terlalu menyayangi Han, nyatanya Dia mengabulkan harapan Han saat itu juga.

Meihui sendiri yang mengantarkan pesanan mereka. Membuat mata tipis Han tak lepas menatap gadis di hadapannya itu. Andai saja dia bisa, Han pasti sudah menarik perempuan itu untuk duduk di pangkuannya, memintanya menyuapkan makanan, agar dia bisa menenggelamkan kepalanya, mencuri kesempatan menandai leher mulus itu.

Sial…! Baru membayangkannya saja sudah membuatnya gerah dan terasa sesak di bawah sana.

Han terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga tak sadar jika Aerin tengah mengamati dirinya dan gadis pelayan itu diam-diam.

Aerin, dengan tatapan penuh tanya, memandang dua orang itu bergantian. Kakaknya yang merona merah tipis di pipi itu, juga si gadis pelayan yang tak menunjukkan tanda apapun jika dia mengenal Aerin atau kakaknya. Sebuah pemahaman muncul di otaknya. Gadis cantik itu menyeringai tipis.

Well..akan ada bahan godaan menarik untuk kakaknya…
.
.
.
.
.
.

“Bukankah sudah ku katakan jika kita akan bertemu lagi Nona Huang..itu benar kan…?”

Meihui menatap pria di depannya itu dengan wajah datar, mencoba menyembunyikan fakta jika dia sebenarnya lega bisa bertemu kembali dengan pria ini. Lega..? Tapi, kenapa harus lega…?

Tatapannya beralih pada gadis mungil yang sedang menggandeng lengan Han. Oh..jadi..dia bersama seorang gadis dan masih berusaha merayuku…..berani sekali…

Han mengikuti arah pandangan Meihui, buru-buru berkata agar gadis itu tak salah paham.

“Dia adikku…”

“Aku tak tanya…”

Kali ini bukan hanya Han yang terpana. Aerin juga. Tawa gadis itu bahkan hampir meledak.

Baru kali ini ada perempuan yang sanggup mengacuhkan pesona kakaknya. Biasanya dia yang harus repot membereskan para penggemar Han. Well..gadis yang menarik…!!

“Aku hanya menjelaskan….” Han menggaruk tengkuknya yang tak terlalu gatal. Sedikit salah tingkah. Perempuan ini tak hanya dalam mimpi, tapi jauh lebih menggemaskan dalam hidup nyata.

Oh ayolah..apa gadis ini akan tetap dingin ketika Han membuatnya menyerah dalam satu pergumulan seru di ranjang.

Cukup..!! Menjauhlah otak mesum….

“Bagaimana kau bisa tahu namaku…?”

Han terdiam sebentar, memastikan jika Mei benar-benar bertanya padanya.

“Sejak kecil aku terbiasa membaca tulisan tangan adikku yang mirip morse…”, ucap Han polos yang membuat Aerin menggerutu kesal dan pergi sambil menghentakkan kaki.

Meihui terkekeh pelan, yang membuat Han kembali mengingat jika dia sudah memakai celana dengan ukuran benar yang dan entah kenapa jadi begitu sesak. Ya Tuhan..gadis ini bahkan mampu membuatnya bangun hanya dengan suara tawanya.

“Jadi..? Apa aku bisa mengajakmu pergi…? Ke Eiffel mungkin..?

Meihui terdiam kembali. Pria ini mengajaknya pergi…? Jalan-jalan…? Atau kencan…? Tapi….

“Aku pikir tak masalah Tuan…”

“Panggil aku Han, Meihui-ya…dan akan aku tunggu…”, pria itu berbisik tepat di telinga Mei, menebarkan nafas hangat yang entah kenapa bisa membuat tubuh Huang Meihui bergetar setelah sekian lama.

Kenapa…? Tidak…ini tidak boleh…ini tidak benar….

****tbc****

Note:

Ni haoo…..

Lagi-lagi saya kembali…. *tak ada yg nanya..

Part.4 nya semua…. apa cukup panjang..? Well….lumayan tuing-tuing(?) untuk aku yg berkacamata… tapi aku harap cukup memuaskan yaaa… *tebar confetti

Anyway… buat semua yg sudah mau berkunjung dan membaca.. TERIMAKASIH BANYAAAAAAKKKKK….!!!! *special pake cepslock loh…

Bagi yg mau kenalan sama saya..*jika ada plaakkk…

Bisa di
fb : Ellena Severus
Tweet: @EllenaHannie
Ig: @ellena_han

DAN BUAT AUTHOR NIM YANG ASLI a.k.a AECHAN KIM…..TERIMAKASIH SUDAH MAU MENULISKAN THIS GORGEOUS STORY UNTUKKU….*kecup sayang

And last…ppaaaaaaaaiiiiiiiiii….

—misshan—

Dream….(part.3)

Dream…..(part.3)

By. Aechan Kim

Rate: M

Genre: Romance

Cast: HanGeng, Li Xu a.k.a Ryeowook, n OC

Disclaimer:  I just own the plot, chara isn’t mine

~happyreading~

Pagi yang begitu menenangkan. Suara-suara bising yang ada disekelilingnya sudah tak terdengar ketika Huang Meihui sedang berkonsentrasi menikmati indahnya musim gugur Paris. Angannya hanya tertuju pada dirinya dan kota romantis ini.

Gadis itu berhenti sejenak, memungut daun maple merah yang berserakan di tanah. Senyum lembut terulas di bibirnya. Tangannya menggenggam daun merah itu, melanjutkan langkah menuju sungai Seine.

Meihui menghempaskan tubuhnya di salah satu bangku taman, menatap Seine yang berkilau terkena mentari pagi. Dia selalu suka, suka ketika semua berjalan sesuai angannya.

Hanya dia dan dunianya. Jemarinya menuliskan sesuatu di daun merah yang dia bawa.

Mungkin harapan? Atau mungkin sebuah kutipan…? Tak ada yang tahu…biarkan saja gadis itu dengan hayalannya.
.
.
.
.
.
.

Love is when she gives you a piece of your soul, that you never know, was missing.

–Torquoto Tasso–
.
.
.
.
.
.
.

Bagaimana kabar Han…? Oh…dia baik..amat sangat baik. Dia bahkan bertingkah seperti anak kecil yang terlalu banyak makan permen.

Pria tampan itu, kini sedang menikmati keindahan tiada tara, itu menurut pendapatnya.

Mengambil tempat yang sedikit tersembunyi, namun tak mengurangi pandangannya. Memorynya terus merekam setiap detail pemandangan itu dalam otaknya.

Siapa yang menyangka jika firasatnya benar…? Tak sia-sia berbagai macam kegilaan yang dia lakukan di pagi ini. Mulai bangun lebih dulu dari pada matahari, bagi Han yang tak pernah bangun sebelum jam 9, hal ini tentu satu kegilaan. Lalu menggedor pintu kamar sekretaris Cha hanya untuk bertanya apa penampilannya sudah cukup tampan, yang membuat sekretarisnya itu sampai harus memukul dirinya sendiri untuk memastikan dia tak salah dengar.

Lalu berjalan riang ke Sungai Seine duduk menunggu beberapa jam. Yang benar saja, dia bahkan sudah duduk diam sebelum Seine tersaput cahaya. Untungnya, sebelum dia nyaris beku karena terlalu lama berdiam diri, yang di tunggunya muncul juga.

Siapa?  Tentu saja gadis kemarin. Gadis yang semalam dia harap datang dalam mimpinya tapi ternyata justru dia tak dapat memejamkan mata.

Han sendiri tak tahu kenapa dia jadi senang menghujani seseorang dengan begitu banyak pujian.

Apa ada yang salah dengan dirinya…? Kenapa dia begitu suka menatap ekspresi dari wajah gadis itu…? Padahal namanya saja dia tak tahu.

Ya..ya…semudah itukah cinta menyapa dingin hatinya….?
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Gadis cantik itu beranjak dari duduknya, melangkah pergi. Tak ingin ketinggalan atau melewatkan kesempatan apapun, Han melakukan hal senada.

Mengikuti setiap langkah yang diambil gadis itu. Walau tetap menjaga jarak aman. Berusaha konsentrasi dengan langkahnya sendiri, karena matanya tak lepas dari gerakan si gadis yang jauh di depannya.

Melompat ke dalam bus yang sama. Sengaja memilih berdiri begitu dekat, hanya untuk mengamati wajah ayu itu dengan lebih jelas.

Tak sedetikpun mata tipisnya melewatkan detail yang dia inginkan. Buru-buru mengalihkan pandangan dan membuat ekspresi seolah-olah sedang menikmati pemandangan ketika gadis itu memergokinya sedang menatapnya intens.

Huang Mei yang merasa diamati kembali mengernyitkan dahi. Pria ini. Bukankah dia pria yang kemarin…? Kebetulankah…? Atau…?

Gadis itu mencoba mengabaikan, kembali fokus pada tujuannya. Bersiap melompat turun ketika bus yang di tumpanginya berhenti di halte tujuan. Gadis itu berjalan sebentar dan menghilang ke dalam sebuah restoran kecil.

Lagi-lagi hal melakukan hal yang sama. Mengikuti setiap gerakan gadis itu. Namun sayang, langkahnya harus terhenti ketika dia melihat gadis itu menghilang di balik pintu sebuah restoran kecil. Crescent Moon, begitu plakat merah emas yang ada di atas pintu rumah makan itu.

Well.. apa lagi yang bisa dia lakukan jika sudah seperti ini? Menerobos masuk pun tentu tak mungkin. Restoran itu belum buka, salah-salah dia bisa dituduh pencuri atau apa. Menunggu di luar pun sepertinya mustahil. Bayangkan kau harus berdiri diluar ditengah cuaca musim gugur yang tak menentu sampai waktu yang tak ditentukan pula. Bisa kalian bayangkan….?

Yeah…dan tak mungkin kan pria tampan seperti dirinya akan melakukan hal itu. Oh…bukan berlebihan, hanya menyampaikan fakta.

Dering ponselnya membuat Han sedikit tersentak. Mengumpat pelan begitu dia melihat caller id si pemanggil.

“Kau lupa pesanku…!!”

/”Boss..tapi..ada hal penting yang harus Anda hadiri….ini tentang perusahaan…”/

Hening.

/”Boss…”/ suara lirih di seberang kembali terdengar.

Han mengusap wajahnya frustasi. Kembali mengeluarkan umpatan yang jika didengar Ibunya akan membuat Ibunya mencuci mulut Han dengan pemutih.

“Baik…baik…jemput aku…Seine…15 menit lagi…!”

Han menatap restoran itu dengan tatapan tak terbaca, sebelum menghela nafas panjang dan melangkah pergi. Tanpa tahu ada sepasang mata lain yang mengamati langkahnya dari balik kaca.

‘Mungkin memang belum saatnya…’
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Yang disebut hal penting menyangkut perusahaan ternyata tak sepenuhnya penting. Hal ini tentu saja benar-benar mmbuat Han ingin mencekik sekretaris Cha.

Aura gelap yang menguar dari dirinya bahkan mampu mempengaruhi atmosfer seluruh ruangan. Membuat pembicaraan mengenai penjelasan ulang kontrak kerjasama dengan pihak penyewa toko, menjadi dipercepat. Siapapun, termasuk Tuan Zhao masih ingin kembali hidup-hidup.

Pria itu segera melesat meninggalkan ruang pertemuan bahkan sebelum pembicaraan resmi ditutup. Untuk kesekian kali Sekretaris Cha dan Paman Jang yang harus membereskan kekacauan yang dibuat Han.

Aston martin putih itu kembali meluncur cepat di jalan raya. Han sendiri yang mengemudikannya, menekan pedal gas sedalam yang dia inginkan.

Pria itu menghela nafas lega ketika melihat tanda buka di pintu Crescent Moon. Dengan penuh percaya diri, Han melangkah masuk. Menyamankan tubuhnya di sudut ruangan. Mendesah kecewa ketika bukan gadis yang dia tuju yang menanyakan pesanannya. Dan hampir berteriak seperti orang gila ketika suara itu menyapa telinganya.

“Maaf..membuat Anda menunggu lama…”

Han terkesiap. Mata sipitnya nyaris tak berkedip ketika menatap sosok cantik yang sedang menata pesanannya.

Gadis itu, gadis Asia, bermata bulan sabit dengan surai hitam sebahu. Mengenakan seragam pegawai resto yang kontras dengan dekorasi ruangan serba merah dan emas. Khas oriental, suasana nyaman yang mengingatkan dia akan rumah.

“Xie..eum….thanks..maksudku…”

Gadis itu memiringkan kepalanya, tersenyum simpul menatap Han.

“Pu ke ci, Zhu…”

Ya Tuhan..bahkan suara itu terdengar berkali lipat lebih merdu daripada tawanya.

Gadis itu berlalu, menyadarkan Han jika lagi-lagi karena ulahnya yang memalukan karena kehilangan suara di depan gadis itu membuat kesempatannya terbuang percuma.

‘Semesta..sepertinya…aku benar-benar jatuh cinta…’
.
.
.
.
.
.
.

Sebuah taman cantik di sekitar Eiffel. Han mengedarkan pandangannya, hingga sorot teduhnya melihat seseorang. Berdiri anggun dengan kedua tangan di belakang punggung. Menengadah menatap Eiffel, membiarkan rambut sebahunya dipermainkan angin.

Daun-daun musim gugur yang menguning berjatuhan di sekitarnya. Seolah mengajak si gadis berdansa. Han seperti baru saja dilemparkan dalam dunia lain yang indah sekaligus romantis.

Ragu-ragu, pria itu melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahu gadis itu. Memejamkan mata sebentar, takut jika gadis itu akan lenyap ketika ia menyentuhnya.

Han bernafas lega ketika tangannya tetap memegang sosok nyata. Ketakutannya tak beralasan. Gadis itu tetap ada. Bahkan membalikkan badan dan memberikan senyuman paling sejuk untuk Han.

Tak ada kata, tak ada yang bersuara. Semua sudah tersampaikan hanya dengan pandangan mata. Jarak yang ada mulai terkikis. Hingga masing-masing mampu merasakan panas nafas mereka.

Jarak itu hanya menyisakan nol koma sekian senti, ketika tangan Han mulai menggenggam ruang kosong. Tubuh gadis itu memudar bersama hembusan angin dan tarian daun maple.

“Tidak…jangan…”
.
.
.
.
.
.
.
.
.

“Nooo… !!!”

Teriakan itu menggema kembali di ruang kamar besar itu. Han mengusap wajahnta yang basah karena peluh.

Mimpi…mimpi indah…dan gadis itu…lagi…

Dia tak tahu apa yang akan terjadi, karena semua jauh di luar kuasanya, tapi, kini Han menyadari dan meyakini sesuatu.

Sadar jika gadis itu ada dan nyata dan yakin jika mereka, entah bagaimana telah ditakdirkan untuk bersama.
.
.
.
.
.
.
.

Sekian puluh kilometer dari tempat Han termenung, seorang gadis sedang menyembunyikan kepala di antara kedua lututnya. Bahunya bergetar pelan. Menggumamkn sebuah nama diantara isaknya.

“Feng gege…”

Mimpi…mimpi buruk itu datang lagi. Ingatan ketika sosok berlumuran darah itu terbaring di pangkuannya. Ketika mata yang selalu menatapnya penuh cinta terpejam selamanya.

“Feng gege…aku merindukanmu…”

Malam masih panjang, tapi Meihui menolak terpejam. Tidak jika dia hanya akan melihat lagi saat dunianya berhenti. Ketika pria yang dicintainya meninggalkannya.

Gadis itu masih memeluk lutut, semakin membenamkan kepalanya. Bulir-bulir itu masih menuruni pipinya.

‘Tuhan…bisakah Kau mengganti mimpiku dengan yang lebih indah…?’

******tbc******

Note:

Ni haooo…. part.3 nya semuaaaa…..

Hehehe…

Sampai jumpa di part selanjutnya…

For the real author… “Aechan Kim..” XieXie… *bow

Semua yang sudah mampir dan membaca  TERIMAKASIH BANYAAAKKKK…!!!! *kecup satu satu

Ppaaaaiiiiiii……^^

—mishan—